Selasa, 30 Desember 2014

Tahun Baru Broo..



Halloo teman teman,,
Ini udah malam tahun baru ya?? Hhmm,, aku sarankan deh,, mending hari ini jangan keluar rumah / kos,,  soalnya cuacanya mendung, pasti nanti hujan.. belum lagi jalanan pasti padet, macet,. 

Mending di rumah atau kos, nonton tv, dengerin musik, atau kalau pengen lebih alim,, baca baca Al-Qur’an, Shalat Sunnah, dzikir, atau belajar buat menghadapi UAS besok.. apa enaknya coba kluyuran di malam tahun baru? Cuma ngabisin duit, tenaga, dan pikiran.. kalau Cuma pengen liat petasan di alun alun, mending beli kembang api sendiri geg dimainkan sendiri.. kan sama saja to??

Oke??! Jangan sampai kita ikut ikutan perbuatannya orang orang jahiliyyah, yaitu mlakukan pelanggaran atau maksiat di awal tahun. Karena itu dosa, dan bagiku itu kurang kerjaan saja, gak penting kan ya??

UpiillLkuu Sayaanng



Ini adekku yang super duper nakall dan penggila banget sama film yang berjudul  FROZEN,, namanya Ulfa tapi aku manggilnya Upiill.. hehee
Setiap aku pulang dari Jogja, dia pasti bilang “Yyeee.. mba Desi Dista mantuk,, Yee Yyee.. mba mba, ayo nonton Ba Dit Go yo mba,, endi letopmu? Ayo nonton,, yo mba yo?.. aallaahhh mba,, yo?!”
Oommiiggoott,,ngomong Let It Go aja Ba Dit Go,,  jengkeli banget kalo udah kaya gitu, gak tau apa mba nya baru datang, capek, laper, harusnya  di pijat kek, ini malah banyak minta.. dasarr UpiiillL.
Saking sukanya sama itu film, sampai sampai dia itu hafal semua gerakan, jalan cerita, lagu dari FROZEN,. Dan dia menganggap kalo dirinya itu adalah Princess Elsa..hhahaa,, kok segitunya ya??? Hmm..

Kisahku_6

Ending dari >> Karena Dia Adalah Hidupku



“Dis, kui mau ki kepiye critane kok Desi ngasih koyo ngono?” kata bapakku. Lalu aku menjelaskan pada bapak semua ceritanya secara detail. “Salahe sopo nek dikandani wong tuo ngeyel, gur nek isuk kon sarapan kok angel men, wong lawuh yo wis kecepak, opo susahe jane... (bla bla bla panjang lebar)” bapakku marah marah, tapi aku gak begitu peduli. Aku tahu bapak marah karena khawatir pada kami, takut terjadi apa apa pada anaknya. Setelah selesai marah, bapakku berhenti dan menelepon ibuku untuk datang ke RS, agar Ibu saja yang menemani Desi dan aku disuruh kembali ke sekolah. Selama menunggu ibuku datang, aku hanya diam saja dan terus berdo’a, sementara bu Yohana juga mengerti keadaanku, sehingga dia mencoba menghiburku. Beberapa menit kemudian, dokter selesai memeriksa Desi, aku langsung masuk, Desi masih memakai selang oksigen dan masih agak tersengal sengal, tapi sekarang lebih mending daripada sebelumnya tadi. Aku bersyukur lega dan tersenyum padanya, tapi aku juga pengen nagis lagi. Desi hanya memandangku lemah dan lelah. Bu Yohana keluar membelikan teh hangat untuk Desi. Tak lama kemudian, ibuku datang dengan ekspresi yang juga terguncang melihat kondisi Desi saat itu.

Aku merasa sangat bersyukur sekali bahwa Allah benar benar menolong Desi, dan mengabulkan do’aku. Aku hanya tak bisa berpikir, kalau saja waktu di mobil tadi Desi benar benar akan diambil nyawanya, aku mungkin juga tidak akan bisa hidup, karena bagiku Desi adalah hidupku. Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah menyelamatkan kami. Saat itu aku jadi seemakin sadar, bahwa segala yang ada dan terjadi di dunia ini Allah lah yang menentukan, dan kita sebagai hamba-Nya hanya bisa merencanakan. Jika kita selalu pasrah dan berserah diri, maka Allah juga akan memudahkan dan memberikan jalan keluar pada hidup kita. Satu yang tidak bisa dielakkan, yang mana setiap makhluk akan mengalami dan tidak bisa menghindari, yaitu kematian. Sungguh mati itu datangnya sewaktu waktu. Di dunia kita hanya singgah sementara, dan akan kekal abadi selama lamanya di akhirat. Semoga kita tetap selalu di jalan-Nya, jalan yang lurus sampai ajal menjemput kita. Aamiin Yaa Robbal Alamiin.
>>>>>♦<<<<<
Aku pun kembali ke sekolah, memang terasa berbeda, tapi aku harus bersikap biasa, agar teman temanku juga tidak khawatir. Toh, kalau aku cerita mereka juga tidak mengerti seperti apa rasanya jika seseorang akan mendekati ajalnya.
Alhamdulillah Desi pun hanya di opname selama 2 hari, tapi masih meninggalkan bekas yang sakit di dadanya, tapi aku yakin semuanya pasti akan hilang seiring berjalannya waktu.
Ya, Desi adalah hidupku dan Allah adalah segala-galanya bagiku. Terimakasih ya Allah.
SELESAI

Senin, 29 Desember 2014

Kisahku_5

Next >> Karena Dia Adalah Hidupku



Bel pun berbunyi, menandakan masuk pelajaran. Teman temanku disuruh masuk kelas oleh bu Yohana, tapi aku tetap menemani Desi. Tak lama kemudian, bapakku datang dengan membawa mobil, langsung Desi digotong masuk ke mobil. “Dis, ayo kowe melu ngancani Desi karo aku, kowe rasah melu pelajaran sik, mengko ben diijinke Fitri.” Kata bu Yohana. Sebenarnya aku ini siswa yang anti meninggalkan jam pelajaran (aku tertib mengikuti setiap mata pelajaran, karena aku gak mau ketinggalan materi) tapi, karena sekarang situasinya berbeda, aku ikut menemani Desi dibawa ke RS terdekat, kira kira 5km jarak tempuhnya, yaitu RSI Cawas.

Waktu menunjukkan pukul 10.15, cuaca benar benar panas terasa di dalam mobil. Desi duduk diantara aku dan bu Yohana, sedang bapakku yang mengemudi, perjalanannya gak bisa terlalu cepat, krena jalan yang tidak rata dan berbelok belok. (Jika sekarang aku pikir, aku tidak mau mengingatnya lagi, karena itu sungguh peristiwa yang mengerikan.) Desi menjadi semakin parah, kejang kejang, tance, hampir sekarat. Aku memegangi Desi sekuat aku bisa. “Desi, ojo ngono. Plese Des, ojo koyo ngono..” kataku. Sumpah, saat itu Desi benar benar gak bisa bernapas, gak bisa sama sekali. Aku tahu karena aku bisa merasakannya, aku di dekatnya, dan aku adalah dia. Ya Allah sakit, sakit banget rasanya, terlalu sesak, aku butuh oksigen. Oh ya Allah, oh malaikat, jangan aku mohon jangan, jangan sekarang, aku mohon ya Allah.

“Heh! Des, yogene kowe kii, dzikir ngono lho, ojo koyo ngono, gek dzikir eling karo Allah.” Kata bapakku yang tiba tiba. “Ho’o Des, dzikiro yo,, Astaghfirulloh... Astaghfirulloh... Astaghfirulloh...Laailaahaillaallah... Laailaahaillaallah... Laailaahaillaallah...” kataku mengajri Desi. Aku menangis, bu Yohana melihatku menangis, aku tidak peduli. Aku sungguh takut, sangat takut. Ketakutanku ini seakan membuat aku hampir mati. Suara nafas yang berderit, menyayat terrdengar di telingaku. Aku tak sanggup lagi ya Allah. Dalam sedetik, aku berpikir Desi akan mati karena susahnya bernapas, tapi aku gak mau itu terjadi. Aku pasrah, menangis dan terus berdo’a hanya satu satunya jalan keluar bagiku. Aku sungguh tidak berdaya.

Bapakku mengemudikan mobil dengan cepat, aku sampai tak sadar bahwa kami sudah tiba di RS. Desi langsung digendong bapakku, dan ada perawat yang berlari membawakan tandu, kemudian Desi dibawa masuk ke dalam kamar pasien. Karena keadaan sudah darurat, maka dokter langsung memberikan selang oksigen pada Desi, tapi Desi masih tetap kejang kejang. “ini kenapa kok bisa sampai seperti ini?” tanya dokter. “Dia tadi habis olah raga lari, karena kecapekan dia minum es teh, kemudian dia jadi sesak napas seperti ini.” Penjelasan singkat dari bu Yohana yang bagiku tidak cukup untuk membuat dokter mengerti. Tapi, kemudian aku, bu Yohana dan bapakku disuruh menunggu di luar saat Desi sedang diperiksa. Di luar aku terduduk lemas dan menangis lagi. Oh Tuhan, selamatkan Desi.

Jumat, 26 Desember 2014

Kisahku_4

Next_____Karena Dia Adalah Hidupku



Shock aku, aku cepet cepet lari ke pendopo, aku tahu pendopo itu letaknya di antara kantor guru dan kantor TU. Di sana ada banyak banget temen temennya Desi dan para guru. Aku mendekat, betapa terkejutnya aku, Desi nggak semaput tapi dia sesak napas hampir kejang kejang. Aku pegang tangannya Desi, dia keras banget megang tanganku. “Desi, koe yogene? Kok isoh koyo ngene? Desi ngomongo,” kataku. Desi nggak bisa ngomong, setiap kali mau ngomong dia batuk batuk. Aku jadi linglung, pengen nangis tapi malu, banyak temen temen dan guru yang ada di sekitar kami. Ya Allah, kuatkanlah Desi.

“Dis, Desi duwe penyakit asma to?” tanya Bu Yohana, guru Bhs. Jawaku, aku menjawab, “boten kok bu, Desi boten gadah penyakit.” “eh cah, ojo dirubung, mengko ndak ra isoh ambegan, koe do ngalio, kurang oksigen kui.” Kata guru olahragaku. Semuanya agak menjauh, tapi aku masih tetpa di tempat.
(“Dis, Desi saiki digawa mulih wae po? Mesakne lho..” “Dis, kok koe kaya ra peduli ngono to?” “Dis, ojo meneng wae, kui kii kembaranmu loh..” “ Dis, Desi jane duwe lara opo?” “Dis, Dis...”) segala perkataan, pertanyaan dari semua teman temanku serasa menghujaniku, aku tidak tahu harus menjawab apa, seakan saat itu aku berada di kejauhan dan menjadi bingung melihat keadaan Desi yang tak henti hentinya batuk. Seseorang menarikku dan berkata, “Dis, iki bapakmu telponen, kon jemput Desi, gek digawa na RS wae.” Tenyata itu suara bu Yohana. “Oh nggih bu,” aku kemudian telpon dengan menggunakan HP dari bu Yohana. “Assalamu’alaikum, mak, bapak ken jemput mbak Desi, mbak Desi nembe lara niki, deweke kejang boten mandek mandek, gek cepet lhe mak, sing ngaken bu guru Desi ken beto teng RS.” Kataku cepat, “Ha?? Pie?? Yo kosek tak ngomong bapakmu. Entenono disek.” Jawab ibuku. Aku lalu menyerahkan Hp nya ke bu Yohana lagi, dan beliau berkata “Pie Dis?? Isoh ora bapakmu marani Desi? Nek ra isoh ben diterne nganggo mobile pak Wisnu wae.” “Saged kok bu, ngendikane mamak ken ngentosi, bapak kula ajeng mriki.” Timpalku.

Aku kemudian mendekati Desi lagi, sekarang Desi semakin parah trance-nya. Dia menarik napas, tapi seakan ada sekat yang menutupi paru parunya, sehingga dia sulit bernapas. (Oh ya Allah, hamba harus bagaimana? Kenapa Desi bisa seperti ini? Kenapa?) “Dis, critane ki ngene, Desi mau raine ngasi abang ireng gara gara bar lari, kekeselen, terus deweke tuku es teh entek 2. Bar kui aku karo desi mlebu kelas meh maem,  tapi lagi oleh sak emplokan Desi meh mutah, terus deweke metu na njobo suwi. Aku krungu si Ebit ngomong, eh Desi semaput!, terus aku metu ngerti Desi lagi digoceki si Lanjar, gandeng Lanjar ura kuat bopong Desi dewe, akhire dibopong bareng bareng digawa na pendopo kene. Dadine, aku gak mudeng kok Desi isoh ngasi kaya ngene.” Aku mencerna penjelasannya Riza dengan lamban, karena aku gak begitu fokus.