Bel pun berbunyi,
menandakan masuk pelajaran. Teman temanku disuruh masuk kelas oleh bu Yohana,
tapi aku tetap menemani Desi. Tak lama kemudian, bapakku datang dengan membawa
mobil, langsung Desi digotong masuk ke mobil. “Dis, ayo kowe melu ngancani Desi
karo aku, kowe rasah melu pelajaran sik, mengko ben diijinke Fitri.” Kata bu
Yohana. Sebenarnya aku ini siswa yang anti meninggalkan jam pelajaran (aku
tertib mengikuti setiap mata pelajaran, karena aku gak mau ketinggalan materi)
tapi, karena sekarang situasinya berbeda, aku ikut menemani Desi dibawa ke RS
terdekat, kira kira 5km jarak tempuhnya, yaitu RSI Cawas.
Waktu menunjukkan pukul
10.15, cuaca benar benar panas terasa di dalam mobil. Desi duduk diantara aku
dan bu Yohana, sedang bapakku yang mengemudi, perjalanannya gak bisa terlalu
cepat, krena jalan yang tidak rata dan berbelok belok. (Jika sekarang aku
pikir, aku tidak mau mengingatnya lagi, karena itu sungguh peristiwa yang
mengerikan.) Desi menjadi semakin parah, kejang kejang, tance, hampir sekarat.
Aku memegangi Desi sekuat aku bisa. “Desi, ojo ngono. Plese Des, ojo koyo
ngono..” kataku. Sumpah, saat itu Desi benar benar gak bisa bernapas, gak bisa
sama sekali. Aku tahu karena aku bisa merasakannya, aku di dekatnya, dan aku
adalah dia. Ya Allah sakit, sakit banget rasanya, terlalu sesak, aku butuh
oksigen. Oh ya Allah, oh malaikat, jangan aku mohon jangan, jangan sekarang,
aku mohon ya Allah.
“Heh! Des, yogene kowe
kii, dzikir ngono lho, ojo koyo ngono, gek dzikir eling karo Allah.” Kata
bapakku yang tiba tiba. “Ho’o Des, dzikiro yo,, Astaghfirulloh... Astaghfirulloh...
Astaghfirulloh...Laailaahaillaallah... Laailaahaillaallah... Laailaahaillaallah...”
kataku mengajri Desi. Aku menangis, bu Yohana melihatku menangis, aku tidak
peduli. Aku sungguh takut, sangat takut. Ketakutanku ini seakan membuat aku
hampir mati. Suara nafas yang berderit, menyayat terrdengar di telingaku. Aku
tak sanggup lagi ya Allah. Dalam sedetik, aku berpikir Desi akan mati karena
susahnya bernapas, tapi aku gak mau itu terjadi. Aku pasrah, menangis dan terus
berdo’a hanya satu satunya jalan keluar bagiku. Aku sungguh tidak berdaya.
Bapakku mengemudikan
mobil dengan cepat, aku sampai tak sadar bahwa kami sudah tiba di RS. Desi
langsung digendong bapakku, dan ada perawat yang berlari membawakan tandu,
kemudian Desi dibawa masuk ke dalam kamar pasien. Karena keadaan sudah darurat,
maka dokter langsung memberikan selang oksigen pada Desi, tapi Desi masih tetap
kejang kejang. “ini kenapa kok bisa sampai seperti ini?” tanya dokter. “Dia
tadi habis olah raga lari, karena kecapekan dia minum es teh, kemudian dia jadi
sesak napas seperti ini.” Penjelasan singkat dari bu Yohana yang bagiku tidak
cukup untuk membuat dokter mengerti. Tapi, kemudian aku, bu Yohana dan bapakku
disuruh menunggu di luar saat Desi sedang diperiksa. Di luar aku terduduk lemas
dan menangis lagi. Oh Tuhan, selamatkan Desi.
trus lanjutannya gimana itu ??
BalasHapuspenasaran ..
wah iya itu es teh jd biang keroknya...
BalasHapusHAHAHAAA.. rodo ra cetha memang..
BalasHapus