Senin, 29 Desember 2014

Kisahku_5

Next >> Karena Dia Adalah Hidupku



Bel pun berbunyi, menandakan masuk pelajaran. Teman temanku disuruh masuk kelas oleh bu Yohana, tapi aku tetap menemani Desi. Tak lama kemudian, bapakku datang dengan membawa mobil, langsung Desi digotong masuk ke mobil. “Dis, ayo kowe melu ngancani Desi karo aku, kowe rasah melu pelajaran sik, mengko ben diijinke Fitri.” Kata bu Yohana. Sebenarnya aku ini siswa yang anti meninggalkan jam pelajaran (aku tertib mengikuti setiap mata pelajaran, karena aku gak mau ketinggalan materi) tapi, karena sekarang situasinya berbeda, aku ikut menemani Desi dibawa ke RS terdekat, kira kira 5km jarak tempuhnya, yaitu RSI Cawas.

Waktu menunjukkan pukul 10.15, cuaca benar benar panas terasa di dalam mobil. Desi duduk diantara aku dan bu Yohana, sedang bapakku yang mengemudi, perjalanannya gak bisa terlalu cepat, krena jalan yang tidak rata dan berbelok belok. (Jika sekarang aku pikir, aku tidak mau mengingatnya lagi, karena itu sungguh peristiwa yang mengerikan.) Desi menjadi semakin parah, kejang kejang, tance, hampir sekarat. Aku memegangi Desi sekuat aku bisa. “Desi, ojo ngono. Plese Des, ojo koyo ngono..” kataku. Sumpah, saat itu Desi benar benar gak bisa bernapas, gak bisa sama sekali. Aku tahu karena aku bisa merasakannya, aku di dekatnya, dan aku adalah dia. Ya Allah sakit, sakit banget rasanya, terlalu sesak, aku butuh oksigen. Oh ya Allah, oh malaikat, jangan aku mohon jangan, jangan sekarang, aku mohon ya Allah.

“Heh! Des, yogene kowe kii, dzikir ngono lho, ojo koyo ngono, gek dzikir eling karo Allah.” Kata bapakku yang tiba tiba. “Ho’o Des, dzikiro yo,, Astaghfirulloh... Astaghfirulloh... Astaghfirulloh...Laailaahaillaallah... Laailaahaillaallah... Laailaahaillaallah...” kataku mengajri Desi. Aku menangis, bu Yohana melihatku menangis, aku tidak peduli. Aku sungguh takut, sangat takut. Ketakutanku ini seakan membuat aku hampir mati. Suara nafas yang berderit, menyayat terrdengar di telingaku. Aku tak sanggup lagi ya Allah. Dalam sedetik, aku berpikir Desi akan mati karena susahnya bernapas, tapi aku gak mau itu terjadi. Aku pasrah, menangis dan terus berdo’a hanya satu satunya jalan keluar bagiku. Aku sungguh tidak berdaya.

Bapakku mengemudikan mobil dengan cepat, aku sampai tak sadar bahwa kami sudah tiba di RS. Desi langsung digendong bapakku, dan ada perawat yang berlari membawakan tandu, kemudian Desi dibawa masuk ke dalam kamar pasien. Karena keadaan sudah darurat, maka dokter langsung memberikan selang oksigen pada Desi, tapi Desi masih tetap kejang kejang. “ini kenapa kok bisa sampai seperti ini?” tanya dokter. “Dia tadi habis olah raga lari, karena kecapekan dia minum es teh, kemudian dia jadi sesak napas seperti ini.” Penjelasan singkat dari bu Yohana yang bagiku tidak cukup untuk membuat dokter mengerti. Tapi, kemudian aku, bu Yohana dan bapakku disuruh menunggu di luar saat Desi sedang diperiksa. Di luar aku terduduk lemas dan menangis lagi. Oh Tuhan, selamatkan Desi.

3 komentar: