Ini kelanjutan crita Karena Dia Adalah Hidupku
Pukul 07.00 WIB, kami
sudah berada di SMA termewah dan sogun (mepet sawah dan ngisor gunung), SMAN 1
Bayat. Cuaca hari ini cerah, semua pohon, sawah dan gunung berwarna warni
memperlihatkan keceriaan mereka. Setelah sepeda di parkir, kami masuk ke kelas
masing masing, aku berada di kelas IPA 1 sedang Desi di kelas IPA 2. Sembari
menunggu bel masuk berbunyi, seperti biasa suasana kelasku pagi ini rame
seperti pasar. Pagi ini jadwal pelajaranku adalah Bahasa Inggris dari Ibu
Wijayanti. Bel masuk pum berbunyi, tidak berapa lama, Bu Wijay (nama yang biasa
kita sebut) pun masuk. Menurutku, Bu Wijay itu guru yang funny, kocak, gaul,
sumeh alias murah senyum serta baik. Dan yang paling eksotik adalah beliau itu
seksi, saking seksinya jadi susah melangkah (artinya gemuk). Hehee
Next, pelajaran itu aku
lalui seperti biasa, setiap ada pertanyaan aku selalu berusaha menjawabnya,
bukannya sombong, tapi aku dikenal sebagai siswa yang pandai Bahasa Inggris,
tapi bagiku hanya biasa saja, yaa meskipun jika dibandingkan dengan teman teman
memang lebih baik aku. Hehee
“Dimas! Koe kii ngopo
to cerewet wae ket mau? Opo pitikmu rung mbok pakani?” bentak bu Wijay yang
mengagetkan aku. “La niki lho bu, Nia nganoni aku wae.” Alesan Dimas. “Heh, la
sopo loh? PEDEne. Wong koe ket mau sing nganoni aku nok.” Bantah Nia. “Ndi buktine?!”
kata Dimas, Bu Wijay pun menyela, “wis, wis rasah padu. Isuk isuk kok wis padu
mbrebegi kelas liyane ngerti ra? Koe barang Dimas, koe wis gede ning tingkahmu
kok koyo cah TK, tak kandakne bapakmu lho mengko, sekolah nek gur ngene iki
sesuk koe arep dadi opo?” “Yo dadi wong lah Bu,” jawab Dimas dengan tertawa.
Ohh, bagiku percuma
kalau beradu sama Dimas, ujung-ujungnya kita juga yang kalah. Karena Dimas itu
siswa, teman yang super dupel nakal, usil, banyak tingkah, nggak pernah bisa
diam. Tapi kelebihan dia itu, nggak ada yang nggak ketawa jika berada di
dekatnya, karena dia itu lucu, kocak abis.
“Saiki jawaben pertanyaan
sing nomor 3 kui Mas, Dimas, ‘what do you see of the event above?’ tanya Bu Wijay pada Dimas. “Gunung mbledos.”
Jawab Dimas. (what???) sontak semua anak tertawa, (hahahawkwk). OMG! sungguh
terlalu, aku tertawa tak henti henti sampai perutku sakit, sungguh konyol dia.
Memang benar jawabannya, tapi kok ya begitu banget, sampai bisa bikin bu Wijay
ikut ketawa. Ya, akhirnya Dimas pun dihukum karena sudah keterlaluan, tapi
Dimasnya hanya santai saja, malah cengengesan.
Bagus bangeeeeeet ditunggu kisah selanjutnyaaaa
BalasHapusyaa rabbi...kui koncomu mbak dista ?? opo pacarmu seng ngono kui..hahaha
BalasHapusCeritanya pake 2 bahasa ya...
BalasHapusMelly_hahahaa,, mbahmu kuii,, pacarku kog onenge koyo ngunu,, hahaa, tidak bisa..
BalasHapusbikin novel sekalian aja dis.. cocok hhehe
BalasHapus