“Dis, kui mau ki kepiye
critane kok Desi ngasih koyo ngono?” kata bapakku. Lalu aku menjelaskan pada
bapak semua ceritanya secara detail. “Salahe sopo nek dikandani wong tuo
ngeyel, gur nek isuk kon sarapan kok angel men, wong lawuh yo wis kecepak, opo
susahe jane... (bla bla bla panjang lebar)” bapakku marah marah, tapi aku gak
begitu peduli. Aku tahu bapak marah karena khawatir pada kami, takut terjadi
apa apa pada anaknya. Setelah selesai marah, bapakku berhenti dan menelepon
ibuku untuk datang ke RS, agar Ibu saja yang menemani Desi dan aku disuruh
kembali ke sekolah. Selama menunggu ibuku datang, aku hanya diam saja dan terus
berdo’a, sementara bu Yohana juga mengerti keadaanku, sehingga dia mencoba
menghiburku. Beberapa menit kemudian, dokter selesai memeriksa Desi, aku
langsung masuk, Desi masih memakai selang oksigen dan masih agak tersengal
sengal, tapi sekarang lebih mending daripada sebelumnya tadi. Aku bersyukur
lega dan tersenyum padanya, tapi aku juga pengen nagis lagi. Desi hanya
memandangku lemah dan lelah. Bu Yohana keluar membelikan teh hangat untuk Desi.
Tak lama kemudian, ibuku datang dengan ekspresi yang juga terguncang melihat
kondisi Desi saat itu.
Aku merasa sangat
bersyukur sekali bahwa Allah benar benar menolong Desi, dan mengabulkan do’aku.
Aku hanya tak bisa berpikir, kalau saja waktu di mobil tadi Desi benar benar
akan diambil nyawanya, aku mungkin juga tidak akan bisa hidup, karena bagiku
Desi adalah hidupku. Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah menyelamatkan kami.
Saat itu aku jadi seemakin sadar, bahwa segala yang ada dan terjadi di dunia
ini Allah lah yang menentukan, dan kita sebagai hamba-Nya hanya bisa
merencanakan. Jika kita selalu pasrah dan berserah diri, maka Allah juga akan
memudahkan dan memberikan jalan keluar pada hidup kita. Satu yang tidak bisa
dielakkan, yang mana setiap makhluk akan mengalami dan tidak bisa menghindari,
yaitu kematian. Sungguh mati itu datangnya sewaktu waktu. Di dunia kita hanya
singgah sementara, dan akan kekal abadi selama lamanya di akhirat. Semoga kita
tetap selalu di jalan-Nya, jalan yang lurus sampai ajal menjemput kita. Aamiin
Yaa Robbal Alamiin.
>>>>>♦<<<<<
Aku pun kembali ke
sekolah, memang terasa berbeda, tapi aku harus bersikap biasa, agar teman temanku
juga tidak khawatir. Toh, kalau aku cerita mereka juga tidak mengerti seperti
apa rasanya jika seseorang akan mendekati ajalnya.
Alhamdulillah Desi pun
hanya di opname selama 2 hari, tapi masih meninggalkan bekas yang sakit di
dadanya, tapi aku yakin semuanya pasti akan hilang seiring berjalannya waktu.
Ya, Desi adalah hidupku
dan Allah adalah segala-galanya bagiku. Terimakasih ya Allah.
SELESAI
Kereeeeeeeeen abiezzz deh
BalasHapusyyaaa lohhh...
BalasHapus